Minggu, 17 Mei 2015

Ini Cerpen kubuat ketika aku akan menjadi alumnus SPANDA. Hitung-hitung nostalgia... ya sama seperti judulnya. Check it out!

Aku memasuki gerbang SMPN 1 Pandaan atau lebih dikenal dengan nama ‘SPANDA’. Sekolah favorit di kotaku dan mantan RSBI. Ya, semenjak keputusan MK tentang dihapusnya nama ‘RSBI’, sekolahku kembali seperti semula tetapi kami--murid dan seluruh warga sekolah sepakat untuk tetap menjalankan proses belajar mengajar seperti sekolah RSBI dengan KKM 80 bukan kembali menjadi KKM 75. Tentu saja hal ini meresahkanku yang lemah dalam hal matematika. Untuk mendapatkan nilai minimal saja sudah mati-matian apalagi nilai sempurna.
            Aku harus melewati lapangan upacara yang merangkap tugas sebagai lapangan basket dan voli untuk sampai di kelasku, kelas 9B. Senyum dan rasa senang dalam benakku terpancar hingga aku berada di ambang pintu kelasku. Bagaimana tidak, Vero temanku baru saja mengganti kalender UN yang tertulis dengan tinta hitam di papan putih kelasku. ‘13 hari lagi menuju UN’. Ya, aku sudah tak sabar menanti UN tiba. Aku ingin segera lulus dari sekolah ini. Seperti yang dikatakan Bu Nana, guru bahasa Indonesiaku. “Belajar yang rajin. UN semakin dekat. Wis, ndang UN, ndang lulus. Golek kanca sing anyar.” (Sudah, buruan UN, buruan lulus. Cari teman yang baru). Sepertinya hampir semua guru yang masuk ke kelasku akan mengatakan hal yang sama. Ulah dan suasana kelas 9B sudah menjadi rahasia umum di ruang guru. Bahkan di seluruh pelosok sekolah. Gaduhnya minta ampun, susah diatur pula. Bahkan, wali kelasku--Bu Rina sudah tak peduli lagi pada kami.  
Tapi nyatanya, hari-H UN yang semakin dekat tidak mendapat perhatian yang antusias sebagian teman-temanku. Mereka malah santai saja. Ugh, aku sampai kesal dibuatnya. Kalau salah satu diantara kami tidak lulus, pasti satu kelas yang kena termasuk aku dan beberapa temanku. Ya, beberapa temanku yang bisa dihitung dengan jari itu tak sengaja terhempas masuk kedalam zona berbahaya ini sama sepertiku. Tergantung nasib saat pembagian kelas awal Juli 2013 lalu.
            Aku meletakkan tas yang membebani punggungku di bangku yang dekat dengan pintu dan duduk dengan santainya di sana. Ya, posisi bangku yang aman. Mudah mendapat angin dari luar, dan mudah pula keluar kelas jika pikiran sedang penat akan ulah mereka.
            Perlahan, senyumku merekah kembali melihat tulisan Vero di papan itu. Membuat pikiranku melayang menuju 2 tahun yang lalu. Aku masih mengingatnya dengan jelas. Awal aku MOS di sekolah ini, dengan dandanan seperti anak TK. Ya, aku masih mengingatnya.
            Pikiranku pun beralih saat aku masuk ke kelas 7H. Disitulah, kisahku dimulai. Aku cukup mudah beradaptasi dengan kelas 7H. Tapi sempat bersitegang cukup lama dengan teman-temanku karena hal seorang cowok… Aku dulunya memang anti dengan cowok yang tak kukenal setelah 1 tahun. Apalagi saat teman sekelasku itu mulai memberi ‘sinyal’ padaku. Ia mendekatiku. Dan aku risih. Ya, kasus yang memang sepele.
            Aku tak ingin berlama-lama memikirkan kenangan saat kelas 7. Menyenangkan, meskipun banyak masalah yang sepele. Mungkin, kami masih terbawa masa-masa saat SD. Saat daftar ulang dan pembagian kelas 8, aku masuk di kelas 8B. Aku mulai beradaptasi lagi. Tapi kisahku di kelas 8B tak berlangsung lama. Hingga suatu hari, Bu Sri—Urusan kesiswaan mengatakan bahwa aku harus dipindah ke kelas 8H karena aku ikut pembinaan MIPA. Aku sempat stress dan shock. Karena mengingat aku akan berkumpul dengan teman-teman kelas 7 dulu. Ya, masalah itu masih terbayang-bayang di pikiranku. Dan lebih mengejutkan lagi ‘cowok’ itu juga dipindahkan dari kelas 8A ke kelas 8H. dan aku akan sekelas lagi!
            Hari-hariku di kelas 8H awalnya membosankan, dan membuatku selalu melirik kearah jam tanganku menanti waktu pulang tiba. Akhirnya, aku mulai menjalaninya dengan santai. Ajaib, aku betah berada disana! Teman-teman yang gokil tetapi mempunyai pikiran yang jenius itu merubah image-ku tentang kelas 8H. Perbedaan pendapat dan masalah tentu saja ada, tapi itu tak berlangsung lama. Mengingat Bu Tarsiyah, wali kelasku bijaksana menyelesaikan masalah.
            Dan akhirnya masalah besar terjadi. Sialnya, aku terlibat di dalamnya. Soal ‘cowok’ lagi! Aku tak tahu apa yang sebenernya terjadi. Tetapi teman-temanku menganggap itu salahku. ‘Cowok’ itu bertengkar dengan sahabatnya sendiri. Aku cukup kesulitan membuat mereka berdua akur seperti sedia kala. Apakah semua sifat cowok itu sama? Sama-sama keras kepala dan egois?. Emm, masalah yang cukup rumit tapi tak bisa aku katakan. Untung saja masalah itu cepat selesai.
            Saat-saat pembagian kelas itu terjadi lagi. Dan sayangnya, aku tak bisa berada di sekolah karena saat itu aku mengikuti kegiatan Kemah Hijau di komplek sekolah Semen Gresik. Cukup sedih, karena aku menyayangi kelas 8H dan tak ingin berpisah.
***
            “Hei, pagi-pagi kok sudah ngelamun. Ati-ati kesambet loh,” kata Zulfi, temanku yang baru saja datang dan seketika menghentikan perjalanan pikiran kenangan itu.
            “Bukan ngelamun tapi semedi. Menyiapkan otak biar fresh,” ujarku.
            “Halah, nemu aja alasan pagi-pagi begini.”
            “Loh, bukannya kalau pagi begini alasan memang sedang matang-matangnya ya. Tuh lihat aja di gerbang, pasti banyak anak yang alasan kaus kakinya dicuci, kerudung putihnya hilang jadi harus pakai kerudung biru, dasinya hilang jadi nanti mau beli lagi, banyak deh,” celotehku.
            “Nyindir Lin? Masalahnya aku sekarang lagi pakai kaus kaki biru bukan putih!” seru Zulfi.
            “Ups, sorry enggak tahu. Terus kok kau bisa lolos dari razia?”
            “Iya dong, atur strategi. Berusaha biar Pak Prapto enggak ngelihat ke bawah,” jawab Zulfi dengan santainya. Aku hanya menggumam.
***
            Otomatis, seperti saat tangan dicubit kita langsung menjerit, pikiranku kembali mengingat kenangan itu. Ya, aku masuk kelas 9B ini, berpisah dengan temanku. Sedih memang, tapi inilah takdirku. Toh sebentar lagi aku juga akan segera keluar dari zona bahaya ini. Berpisah dengan semuanya. Walaupun mungkin akan satu sekolah lagi di SMA. Aku tak mungkin bisa melupakan semua kenangan itu. Walau beberapa ada yang pahit untuk dikenang. Tapi aku tak boleh bersedih. Teman-temanku selalu berkata padaku. Dunia ini berputar. Waktu akan terus berjalan. Yang lalu biarlah berlalu. Meskipun mungkin ada hal berat yang tak bisa kau tinggalkan. Jalani setiap waktu dengan senyuman, jangan pernah ada sesal yang tertimbun di hatimu karena kau tak akan pernah mengulang kejadian itu. Ikhlaskan saja. Suatu saat nanti kau akan temukan penggantinya. Seseorang yang memiliki banyak kemiripan dengan orang yang tak ingin kau tinggalkan. Tersenyumlah, bahagialah, dan tertawalah karena hal itu akan membuat seseorang yang meninggalkanmu juga merasakan aura kebahagiaan yang terpancar darimu. Tuhan punya rencana indah di balik ini semua. Percayalah.

Terima kasih untuk kenangan itu. Terima kasih telah mewarnai hidupku. Semoga kita bisa bertemu lagi suatu saat nanti. I’ll always remember you.

1 Komentar:

Ingat masa-masa bareng kalian di kelas 9B
Alin, Zulfi, Shinta
Aku kangen kalian semua

REPLY

Jurnal Alin . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates